Beranda Budaya Dialektika Generasi Teater Modern di Cirebon (1)

Dialektika Generasi Teater Modern di Cirebon (1)

BAGIKAN
sastra, dialektika, generasi, teater modern, di cirebon (1)

Oleh Edeng Syamsul Ma’arif

Apa kabar generasi teater di Cirebon? Mencengkeram bola gagasan keberdirian dan kebertahanan atau membiarkannya terbang bersama pesimisme wacana publik yang telah menelikungnya ke dalam ruang gelap dan pengap? Keras kepala dengan estetika dan manajemen kelompoknya atau merelakan sekujur tubuh dilindas eksistensi kapiran masa lalu?

Membicarakan teater modern Cirebon, tak ubahnya mengobok-obok sebuah kolam ikan hingga keruh. Sementara, semua paham betul teater modern Cirebon mengalami involusi. Ibarat menegakkan benang basah, serba salah berbaur aroma apatis dan apriori.

Sejak dahulu persoalannya selalu sama. Seputar nostalgia, menyedihkan dan tidak menyedihkan, tentang legenda dan mitos-mitos yang dibangun untuk mengutuk setiap generasi menjadi pecundang. Hingga fakta terbaru melukiskan kecenderungan generasi hari ini yang sibuk mencari tempat berlindung dari sergapan kompetisi kreatif dan ekonomi yang tidak mengenakkan.

Ada baiknya semua pihak kembali ke rumah masing-masing. Mengembalikan kesadaran kepada ruang dan waktu konkretnya. Menata diri dan berpikir ulang soal orientasi berkesenian, menegaskan cita-cita pribadi dan kelompok, merumuskan estetika lewat peristiwa di atas panggung, menggali potensi dan fungsi manajemen organisasi, membangun jaringan kerja kreatif antar komunitas untuk menghadirkan pergesekan dan kompetisi wacana lewat pertunjukan dan dialog intensif, dan seterusnya. Meski tidak bermaksud simplifikatif, langkah semacam ini akan memenggal kesombongan masa silam yang telanjur membatu.

Karena sejarah telah menjelma lampion yang akan menerangi sekat-sekat masa lalu. Kita tidak akan bisa masuk untuk sekadar meniup atau menghidupkannya kembali, sebab ia telah menempati tanah pekuburannya. Sejarah adalah benda-benda, prasasti, imaji-imaji, legenda tentang labirin, atau titian yang menjembatani gerbang masa kini dengan masa lalu yang berserak memenuhi halaman ingatan-ingatan.

BACA Juga:
Musikalisasi Puisi dan Kreator Kota Ini (2)

Dan pada kenyatannya, ingatan-ingatan generasi yang berada jauh di belakangnya tidak akan mampu sepenuhnya memahami, menginterpretasi, dan mengharu-biru singgasananya. Kecuali membacanya lewat fakta-fakta lisan dan tulisan yang tersebar di media massa, makalah-makalah, arsip-arsip yang bertumpuk di laci gudang, atau obrolan-obrolan di warung kopi.

Mungkin kita tidak akan pernah bisa menolak atau menerima gagasan dan kemungkinan yang ditawarkan oleh masa lalu, dalam bentuk retorika maupun teka-teki, tanpa pertimbangan interpretatif, imajinatif, kreatif, dan rasional. Dengan bahasa lain, kita tidak mungkin merebahkan diri pada hamparan artefak tanpa menggerakkan naluri skeptik, sejalan dengan pengetahuan dan wacana yang berkaitan dengannya.

Namun, jika pilihan wacana tak pernah bisa ditemukan, persoalan klasik masih menjadi hantu bergentayangan merasuki tubuh dan isi batok kepala; masa lalu masih menyisakan tempat untuk sekadar mengisap cangklong sambil bertumpang kaki, sembari menilik gagasan yang berserak tak beraturan dalam khazanah literatur kebudayaan. (bersambung)
*) Penulis adalah cerpenis penikmat Kopi Eho

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here