Beranda Headline Dialektika Generasi Teater Modern di Cirebon (4)

Dialektika Generasi Teater Modern di Cirebon (4)

BAGIKAN
berita sastra, dialektika generasi, teater modern, di cirebon (4)

Oleh Edeng Syamsul Ma’arif

Kita lupakan gedung kesenian. Sebab keberadaannya tidak lagi menjadi representasi kreativitas dan kebutuhan penting masyarakat seni Cirebon. Siapa pun bisa membuat pertunjukan di mana saja ia mau.

Bahkan, jika dalam kondisi gedung kesenian seperti sekarang masih saja digunakan, justru akan semakin menghancurkan estetika dan suasana pertunjukan. Pelaku di panggung dan penonton akan sama-sama merasakan situasi seperti di dalam pabrik beras.

Spiritualitas dan Anti Membaca

Membicarakan teater modern di Cirebon memang involutif. Serba salah dan serba susah. Hampir semua mengeluhkan pendanaaan, miss-orientasi, sulitnya regenerasi, yang kemudian berbalik menjadi kekecewaan psikologis terhadap teater itu sendiri. Tak jarang, para pelaku teater beserta kelompoknya menafikan spiritualitas, kesungguhan, dan kesetiaan.

Akibatnya, hampir tidak dijumpai gagasan yang mencuat dan menjadi perbincangan serius, tidak ada isu menarik tentang teater di media massa Cirebon, serta sulitnya menemukan pertunjukan bagus dan layak diapresiasi. Belum ada kesadaran ontologis, sesuatu antara diri manusia dengan teater masih menyatu. Teater dipahami sebatas ekspresi bukan sebagai ilmu. Tidak referensi, refleksi, dan evaluasi dalam penciptaan.

Perlu ada penilikan kembali terhadap kehendak dan cita-cita, ketika seseorang berniat masuk ke dalam dunia teater atau membangun sebuah kelompok. Berserikat untuk mengukuhkan kekuatan ideologis. Sebab berteater tidak sekadar keisengan menyalurkan hobi, melepas penat, dan memenuhi hasrat biologis para pelakunya.

Jika gagasan ini dikesampingkan, yakinlah, teater (meminjam istilah Adorno) hanya akan dijadikan terminal bagi lalu-lintas orang-orang buta yang melakukan aktivitas. Karena faktanya, tidak sedikit pelaku teater di Cirebon yang tidak tertib menata manajemen pribadi dan kelompok. Sanggar dibiarkan kumuh. Menganggap seni dan kesenian tidak bersih dan wangi.

BACA Juga:
[Video] Atasi Perut Buncit dalam Waktu Satu Minggu

Pertanyaannya, kapan pelaku teater di Cirebon memiliki tekad bergerak menertibkan konstruksi pikiran dan cara bekerja? Bagaimana merumuskan sistem dan metode proses, dramaturgi, gagasan unik, mengumpulkan teks referensi, mengukur capaian-capaian estetik, menumbuhkan gagasan ke dalam peristiwa di atas panggung?

Membaca buku-buku, koran, majalah, pertunjukan-pertunjukan kelompok lain, dan membangun jaringan sosial yang sehat? Mengritisi kembali teori WS Rendra, Putu Wijaya, Arifin C Noer, N Riantiarno, Danarto, Suyatna Anirun? Atau membongkar kembali rumus Constantin Stanislavsky, Jerzy Grotowsky, Bertolt Brecht, Walter Benjamin, Antonin Artaud, Henrik Ibsen, Richard Boleslavsky, Albert Camus, Jean-Paul Sartre, Peter Brook, atau teks-teks lain yang tidak pernah dilirik itu?

Sudahkah merumuskan dan merancang sistematika pra-produksi, menjalankan produksi, dan melakukan evaluasi? Membangun dan mengejar paspor kebudayaan untuk meluaskan jaringan lewat lobi-lobi elegan sebagai pengiring capaian estetis kerja kreatif?

Adakah kebutuhan terhadap pentingnya media massa sebagai pengukuh dan penyebar isu dari gagasan maupun praktik teaternya? Mendorong para pelakunya menjadi pekerja seni sekaligus intelektual yang mampu menjadi juru bicara di hadapan publik kebudayaan?

 

*) Penulis adalah cerpenis penikmat Kopi Eho

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here